Bacaan Surah Dalam Shalat Maghrib Dan Isya

Diposting oleh Soleh pada 08:35, 18-Jun-11

Di: Syariat

Dari Jabir bin 'Abdillah radhiallahu 'anhu, dia berkata: "Biasanya Mu'adz shalat bersama Nabi Shallallahu 'Alaihi Wassalam, kemudian dia datang, lalu mengimami kaumnya. Maka pada suatu malam, dia melakukan shalat isya' bersama Nabi Shallallahu 'Alaihi Wassalam, kemudian setelah itu dia mendatangi kaumnya, lalu mengimami mereka. Dalam shalatnya dia membaca surah al-baqarah, maka seorang laki-laki keluar dari Shalatnya, kemudian shalat sendirian, lalu pergi. Maka mereka berkata kepadanya, "Apakah kamu berlaku munafik wahai fulan?" Dia menjawab, "Tidak demi Allah, aku akan mendatangi Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam, lalu aku akan mengabarkan kepada Beliau (perbuatan Mu'adz ini)." Lalu dia mendatangi Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam seraya berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami para pekerja penyiram (tanaman) bekerja pada siang hari (sehingga kecapean), dan sesungguhnya Mu'adz shalat isya' bersamamu, kemudian dia datang mengimami kami dengan membaca surah Al-Baqarah." Maka Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam menghadap Mu'adz seraya bersabda: "Wahai Mu'adz, apakah kamu tukang fitnah. Bacalah dengan surah ini dan bacalah dengan ini."(HR Al-Bukhari no. 664 dan Muslim no. 465)
Dalam riwayat Al-Bukhari:
"Mengapa kamu tidak membaca saja surah 'Sabbihisma Rabbika', atau dengan 'Wasysyamsi Wa Dluhaahaa', atau 'Wallaili Idzaa Yaghsya?' karena yang ikut shalat dibelakangmu mungkin ada orang yang lanjut usia, orang yang lemah, atau orang yang punya keperluan."

Al-Barra' bin Azid radhiallahu 'anhu, dia berkata: "Saya pernah mendengar Nabi Shallallahu 'Alaihi Wassalam saat shalat isya' membaca 'Wattiini Wazzaitun (Surah At-Tiin), dan Belum pernah kudengar seorangpun yang lebih indah suaranya, atau bacaannya daripada Beliau."(HR Al-Bukhari no. 766 dan Muslim no. 464)

Dari Jubair bin Muth'im radhiallahu 'anhu, dia berkata: "Saya mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam membaca surah Ath-Thur dalam Shalat Maghrib."(HR Al-Bukhari no. 765 dan Muslim no. 463)

Bacaan Surah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wassalam dalam shalatnya berbeda-beda antara satu shalat dengan shalat yang lainnya. Terkadang Beliau dalam shalat maghrib membaca surah yang pendek dari surah-surah mufashshal dan terkadang juga Beliau membaca surah mufashshal yang panjang, seperti surah Ath-Thur.
Surah-surah mufashshal adalah mulai dari surah Qaf sampai An-Naas.
Perinciannya sebagai berikut: Surah Qaf sampai An-Naba' adalah Thiwal Al-Mufashshal (Surah mufashshal yang panjang), Surah An-Naba' sampai Adh-Dhuha adalah Awasith Al-Mufashshal (Surah mufashshal yang pertengahan), dan Surah Adh-Dhuha sampai akhir adalah Qishar Al-Mufashshal (Surah mufashshal yang pendek).
Adapun dalam Shalat isya', maka Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassalam telah memerintahkan Mu'adz untuk membaca surah Al-A'la atau Adh-Dhuha atau Al-Lail, sementara Beliau sendiri membaca Surah Ath-Tiin.

Kemudian dari hadits-hadits diatas kita dapat memetik pelajaran, diantaranya:
1. Suatu Masjid yang mempunyai Imam Ratib hendaknya tidak mengerjakan shalat berjamaah, kecuali setelah Imam Ratib datang.
2. Shalat maghrib dan isya adalah termasuk shalat Jahriyah, karenanya para sahabat mengetahui surah yang Nabi Shallallahu 'Alaihi Wassalam baca.
3. Semangat para sahabat untuk shalat dibelakang Nabi Shallallahu 'Alaihi Wassalam.
4. Orang yang sudah shalat wajib lalu masuk kedalam sebuah Masjid yang tengah didirikan shalat wajib yang sama, maka hendaknya dia ikut shalat bersama mereka, dan shalat wajibnya yang kedua kalinya ini dihukumi sebagai shalat sunnah.
5. Seorang Imam Ratib harus shalat lagi mengimami makmumnya, walaupun dia sudah shalat sebelumnya.
6. Bolehnya orang yang shalat sunnah mengimami orang yang shalat wajib.
7. Bolehnya Imam berbeda niatnya dengan makmum (dalam lain situasi)
8. Bolehnya memisahkan diri dari jama'ah shalat lalu shalat sendiri jika ada udzur yang syar'i yang membolehkan. Bahkan terkadang wajib bagi dia untuk keluar dari jamaah shalat, misalnya jika dia berhadats.
8. Haramnya mengklarifikasi sebuah perbuatan kepada pelakunya sebelum menjatuhkan hukuman kepadanya, apalagi jika hukumnya berupa pengkafiran atau menghukumi seorang itu munafik.
9. Dalam meluruskan kekeliruan hendaknya tidak pandang bulu, walaupun yang melakukan kekeliruan tersebut adalah seorang yang berilmu atau orang yang dekat dengan dirinya.
10. Orang yang melakukan amalan yang lahiriahnya jelek, hendaknya dia menyebutkan uzurnya ketika melaksanakan amalan tersebut. Supaya dia tidak mendapatkan tuduhan atau celaan yang tidak pantas dia terima.
11. Bolehnya mentahdzir tanpa menasehati terlebih dahulu.
12. Harusnya dibedakan antara kesalahan manhaj dan metode dengan kesalahan penerapan. Kesalahan manhaj bisa mengeluarkan seseorang dari Ahlussunnah, tapi tidak demikian dengan kesalahan penerapan.
13. Diantara sikap dari: Berlemah lembut dan penuh kompromi kepada orang awam, selama tidak mengantarkan kepada perbuatan yang melanggar agama.
14. Ancaman yang keras untuk orang/da'i yang membuat orang lain lari dari dakwah Ahlussunnah, baik akibat kesalahan mereka dalam menerapkan manhaj atau karena memang sifatnya yang keras dan kurang merahmati orang awam. Dia dinyatakan oleh Nabi Shallallahu 'Alaihi Wassalam sebagai tukang fitnah, yakni orang yang membuat keruksakan.

Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter

Komentar

Belum ada komentar. Tulislah komentar pertama!

Komentar Baru

[Masuk]
Nama:

Komentar:
(Beberapa Tag BBCode diperbolehkan)

Kode Keamanan:
Aktifkan Gambar